Sabtu, 19 Oktober 2013

WHAT A WONDERFULL DAY WITH THREE-MISS-KENTIR

Surat Tugas DTSD 2013 pun keluar di hari-hari terakhir Diklat Prajab kemaren, rencananya bakal diadain 23 September–11 Desember 2013, sayang sekali sodara sodara… ternyata nggak diasramain (#dasar anak kos’an, pengennya nginep-makan gratis… hihihi)

Aku, Amel, & Uci berikhrar (#cih najis bahasa gue) untuk cari kos-kosan dekat Pusdiklat Kementerian Keuangan di Kemanggisan. Ogah banget pulang pergi Senen-Kemanggisan selama 1,5 bulan. Miapah coba?? (#Kiki & Putu, bukan aku bermaksud menyinggung kalian secara diam-diam. #Ups)

Dan hari ini pun dimulai sejak WA dari Amel masuk ke BB aku jam 6.50 AM ,“Mau pergi jam berapa Mer?? Aku sudah siap”.

Berempat (+Rindi) kita siap berangkat memulai hari yang menyenangkan ini tepat-pukul-10-waktu-kos-kosan-Bangau-II.

Terminal Senen > naik Bus Patas Cimone > Turun di Grogol > Naek Metromini 91 > Turun persis di depan Pusdiklat Kementerian Keuangan.

Terima kasih atas info dari Ami yang sempat menyesatkan karena dia ga bisa bedain Kopaja sama Metromini. Btw, sekedar tambahan info Kopaja = warna Ijo, Metromini = warna OREN. Baiklah, saya ulang kembali KOPAJA = IJO, METROMINI = OREN. Terima kasih, makin sayang deh sama Ami (#kiss).

Naik Metromini serem cui…. Apalagi pas berhenti di tanjakan, bannya harus diganjal balok kayu. Nyali udah keder… terus terang kita bukan takut mati, kasian aja sama pengendara motor dibelakang kita kalo sampe mereka kejepit… klo luka-luka terancam tetanus akut mereka tuh (Metromini = Biang tetanus = Body full karat).

Asrama di Pusdiklat ternyata nggak disewain, terpaksalah kita cari di belakang pusdiklat. Jalan tanpa arah dan tujuan, bertemulah kita dengan seorang ibu tua yang sedang belanja di warung sayur dadakan di pinggir jalan. Iseng-iseng kita tanya tentang kos-kosan, ternyata dia punya banyak sekali rekomendasi.
WE ARE THE CHAMPIOONNNNN….!!!!!! (^o^)9

Blusukan di gang belakang
Pusdiklat Kemanggisan
Blusukan di gang-gang kecil, Bu Pahmi sepertinya kenal semua penghuni kampung. Dia bantuin kita cari kontrakan ato kos-kosan (#sedapatnya lah ya, kita mah gampangan… mana aja bolehlah, asal harganya cucok bok)

Finally, kita bertemu dengan Rumah Ibu….. hmmmm…. (#lupa namanya). Pokoknya di lantai 2 ada 2 kamar yang lumayan (#pas banget buat kita berempat, berasa ini takdir), kamar mandi dalam, tv, fan, plus pemandangan kuburan persis di sebelah rumah dan bisa disaksikan secara live dari jendela kamar.

Sebulan Rp 400.000 & Rp 600.000. Ditotal & dibagi 4, masing-masing cuma modal Rp 250.000 sebulan. Murahlah buat kita, dengan fasilitas yang ada-ada aja, deket alfamart, ke pusdiklat tinggal loncat pagar.

Survei lokasi pusdiklat check, kos-kosan check, kita langsung ke masjid terdekat buat shalat, lalu makan pisang ijo & soto mie (#terakhir makan pisang ijo pas SMA, kangennya… SMA PETRA 4 Sidoarjo tercinta).

My Three Musketeers Miss-Kentir
Rencana selanjutnya, cari kos baru untuk moving out dari Senen. Sasaran utamanya adalah Kwitang. Balik naik Metromini ke grogol, lanjut Transjakarta ke Kwitang. Emmmm…. Terus terang kita malas-malasan buat cari di daerah Kwitang, karena menyadari kalo jalan kaki ke kantor jauh. Apalagi buat aku yang punya hobby favorit ngelembur. Malas kali kalo lembur-lembur harus jalan jauh.

Alhasil kita malah cari warung buat minum jus sirsat, es susu, dan makan indomie. Pulang ah, capek. Tapi mampir dulu ke Atrium buat beli kebutuhan “yang urgent-urgent aja”.

Senangnya hari ini, mungkin panas, kehausan, ngabisin berbagai merek minuman dingin, badan lengket pake banget, eyeliner luntur & belepotan, muka kucel, nada bicara sempet beberapa kali nyolot, ketek dan mulut mulai beraroma, tapi asal bersama temen yang menyenangkan…. Dunia itu indah cui. I love my Three-Miss-Kentir, I love my life.

Sabtu, 14 September 2013

MOVING ON IS BULLSHIT? TRY ME

Kakak aku yang terjangkit OCD (Obsessive-compulsive disorder) terhadap kebersihan (more: http://en.wikipedia.org/wiki/Obsessive%E2%80%93compulsive_disorder) selalu mengeluhkan kamarku yang seperti kapal pecah. Suatu kali saat aku melakukan pembersihan besar-besaran, ternyata 70% isi kamarku adalah "hal-hal yang tidak berguna" versi dia. Hadiah-hadiah ulang tahun, oleh-oleh dari teman, buku-buku masa kecil, buku pelajaran sekolah SD sampai kuliah, dll.

Mereka punya nilai penting, mereka merupakan "momento" buat aku. Barang-barang yang kusimpan lebih karena punya nilai psikologis dibandingkan ekonomis tentunya. Kuamankan mereka di box super besar.

Setelah beberapa bulan ternyata memang barang-barang itu tidak pernah kusentuh sama sekali. Kumantapkan hati untuk menghibahkan ke orang lain dan sisanya ku buang juga. Ada perasaan sayang dan berdosa saat melakukannya, jadi kucicil sedikit demi sedikit sampai benar-benar habis semua.


Perhatikan dalam hidup kita, banyak barang-barang yang benar-benar tidak berguna tapi tetap kita simpan. Contohnya: perasaan sakit hati, harapan kosong tentang kasih tak sampai, kekecewaan, dll. Kita terus mengatakan "move on, move on" pada orang lain, padahal sendirinya cuma berlari di tempat.
Kali ini aku memantapkan hati untuk move on, mungkin bertahap, kadang aku akan mundur sebent
ar sebelum maju ke tahap berikutnya.


Baju Cakcuk menunggu moment pemakaian
Akan kumulai dengan:
  1. Tidak lagi menyesali batal daftar BI
  2. Merelakan Unilever
  3. Mengucapkan terima kasih atas interview luar binasa di Shangri-La
  4. Tidak lagi menunggu moment untuk memberikan baju cakcuk... akan kupakai sendiri
Mungkin kadang aku akan bbm/sms, kadang galau, kadang kangen, sesibuk-sibuknya aku pasti akan kuluangkan waktu buat kunjunganmu, and by the way.... kamu tidak ku buang... aku menyerahkanmu ke orang yang jauh lebih baik. I'll let you go.